BAKSO BERACUN

Hari jum’at siang 25 April 2008, hari yang tidak mengenakkan bagi saya dan Saiful putra saya, karena siang dan hari-hari berikutnya, yang seharusnya diisi dengan berbagai kegiatan kunjungan ke UKM Indonesia menjadi terbengkalai. Dikarenakan dua mangkok bakso yang beracun, memang racun disini bukan karena disengaja oleh pedagang bakso keliling itu, tapi karena kekurang tahuan pedagang bakso tentang batas penggunaan bahan tambahan.

Blengg (Borax) atau garam tambahan yang berfungsi untuk mengeyalkan adonan bakso, dengan ditambahkan bahan ini bakso menjadi kenyal, seperti komposisi daging dan sagu/ tapioka sebanding, padahal karena blengg. Kalau dulu kenyal hanya karena daging, tapioka yang diuleni dengan air es aja.

Vitcin, memang perasa ini sekarang lebih dominan pada bakso yang beredar di masyarakat sampai lidah sampai terasa getir (kalau lidah nya peka) tapi kalau lidahnya sudah keseleo ya gak terasa.

Banyaknya pedagang bakso yang berkeliling di Kota Malang dengan keaneka ragaman karakter, menimbulkan segmentasi yang berbeda-beda 1) Ada yang berani mengambil keputusan kenaikan harga dengan resiko pasar yang terbatas. 2) Ada yang tidak berani mengambil keputusan macam2 akan tetapi kualitas bakso sama tapi dengan mengecilkan ukuran bakso, 3) Yang lebih parah tidak berani menaikkan harga tapi ingin tetap dengan ukuran bakso yang standar, dengan mensiasati penggunaan blengg dan vitsin untuk meningkatkan penampilan dan rasa.

Saya sempat berfikir bagaimana kalau semua pedagang bakso bersatu, ini pernah saya dan rekan Lagzis kerjakan di wilayah Universitas Brawijaya Malang, yaitu semua pedagang yang berjualan di wilayah kampus kita wajibkan pakai stiker Brawijaya dan kita lakukan pembinaan terutama pengenalan bahan baku, masalah sopan santun serta budaya bersih. Sehingga semua pedangang jualannya layak konsumsi, bahkan terkadang kalau ada acara kampus kita tinggal memanggil pedangan sekeliling, sehingga bisa sama sama berhemat.

Ini juga lebih mudah mengadakan pembinaan masalah kredit karena dengan berkelompok UKM mempunyai kekuatan, karena dengan kelompok bisa dilakukan model penyaluran kredit model Grammen Bank atau dengan pola tanggung renteng. Apalagi kalau ada partai politik yang menengok dan berminat maka akan jadi lain, bisa-bisa pedagang bakso bisa menjadi anggota DPRD suatu daerah, kenapa tidak…

Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kekuatan kelompok bisa menjadi inspirasi kebersamaan untuk mencapai kekuatan optimal suatu usaha …. bagaimana dengan UKM di sekitar anda !!!!

Salam,
Cak Arif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: