KONVERSI MINYAK TANAH

komporSabtu sore kemarin Kota Malang diguyur hujan dari jam 15 Sore sampai jam 21 Malam, ya memang hujan tidak terlalu deras tapi cukup menganggu aktifitas keluar rumah tapi syukur bagi orang yang sabar karena ternyata banyak kerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, karena Komputer P 3 masih berjasa mengantar membuat tulisan.

Sekitar jam 16 Sore, ada telpun yang diangkat anak pertama saya Syaiful yang menyatakan ada telpun dari teman papa, wah dari mana ini karena seingat saya sejak dua tahun lalu ketika kegiatan banyak di Surabaya jarang sekali ada teman yang telp rumah menanyakan keadaan saya. Setelah saya terima ternyata dari Pak Saiman salah satu teman UKM yang membuat kompor di Damean Singosari Malang. Dia ingin ketemu untuk ngobrol bareng, Pak Saiman ini berumur kira-kira 55 tahun dan baru aja mendapatkan cucu pertamanya. Jadilah minggu itu jam 9 pagi saya meluncur dengan sepeda Tua saya, untuk acara ngobrol hampir 3 jam tentang cucunya yang baru dilahirkan, tentang pasar yang sepi tapi masih menggairahkan, bahan baku yang naik terus sedangkan harga jual tidak bisa naik, sampai Pak Saiman bilang bahwa untungnya sekarang hanya “Blengker bekas drum” aja.

Kalau ada konsultan yang bagus mungkin bilang, ya tutup aja pak dan beralih usaha lain….. itu yang sering saya dengarkan dari banyak konsultan kita, karena memang sudah tidak menguntungkan …..

Tapi ternyata Pak Saiman masih bilang menggairahkan bisnisnya dan masih untung karena ada “Blengker drum bekas”, drum bekas ini adalah sisa produksi, memang Pak Saiman ini memproduksi kompor, eglo, bakaran sate yang berbahan baku drum bekas yang mempunyai limbah “blengker drum” yang tidak bisa di pakai untuk produksi. Blengker inilah yang bagi Pak Saiman untungnya karena ngambil untung dari produk sudah kesulitan, ternyata tiap bulan blengker ini bisa menghasilkan 1 – 1.5 juta bisa anda bayangkan berapa produk yang dihasilkan dan berapa macam hasilnya apalagi kalau kita berfikir berapa banyak karyawan yang terserap …….

Saya tidak tahu apa yang dimaksud Pak Saiman tentang bisnis yang menggairahkan karena produk kompor minyak sekarang menurut berita sepi karena ada konversi gas dengan program pembagihan tabung dan kompor elpiji. Ternyata di pasar permintaan kompor minyak masih tinggi bahkan Pak Saiman memberi argumen ini seperti tahun-tahun lalu program pemerintah briket batu bara sebagai bahan alternatif yang ternyata tidak jalan maka konversi elpiji ini paling-paling gak jalan juga.
Lho kok gitu pak, ternyata Pak Saiman ini mempunyai argumen juga, masyarakat Indonesia ini banyak yang gak mampu membeli tunai 60.000/ tabung bahkan bisa 100.000 maunya di cicil 5000/ hari dan itu hanya bisa kalau bahan bakarnya minyak tanah, tentunya hal ini membuat kompor Pak Saiman masih laku kalau ternyata argument Pak Saiman itu betul.

Terakhir yang saya pikir bukan masalah produksi kompor Pak Saiman, tapi keyakinan Pak Saiman tentang ketidak berhasilan program pemerintah masalah konversi gas yang saya pikir. Bagaimana jadinya kalau setiap orang sudah bisa menyimpulkan dengan keyakinan penuh bahwa program pemerintah ini gagal apa tidak gagal terus program pemerintah, karena otak kita telah menyatakan gagal dulu dibandingkan kepastian keberhasilan suatu program. Takutnya virus kegagalan ini menjalar kepada pelaksana proyek bahkan pengusul proyek itu sendiri kena virus ini ….. atau proyek ini sesungguhnya untuk ambil keuntungan pribadi aja WWWah mampus deh Indonesiaku.

Bagaimana dengan anda, yakin program ini berhasil atau tidak ….. karena berdasarkan pengalaman Pak Saiman program ini tidak berhasil !!!!!!!!..

Salam,
Cak Arif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: