Rotan Indonesia

 Sebanyak 80 persen bahan baku rotan dunia berasal dari Indonesia. Dari jumlah itu, 90 persen merupakan sumbangan rotan alam yang terdapat di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera dan hanya 10 persen dihasilkan dari budi daya.

Menurut sejarah, komoditas rotan atau nama lainnya Lepidocaryodidae sebagai bahan baku industri Permebelan dan Kerajinan Nasional mengalami kebijakan pemerintah yang terus berubah-ubah dari periode ke periode dengan sistem buka tutup yang silih berganti untuk kebijakan ekspornya.

Sebelum tahun 1986 merupakan era bebas ekspor rotan. Indonesia secara besar-besaran mengekspor bahan baku rotan ke berbagai negara, terutama Taiwan yang menjadi pembeli terbesar. Maka secara perlahan-lahan industri mebel Taiwan bangkit dan menguasai pasar mebel dunia.

Melihat kondisi demikian, pemerintah kemudian mengubah kebijakan dengan menyatakan larangan ekspor bahan baku rotan antara 1986–1998. Bagi para Pengusaha Nasional, era pelarangan ini mampu mendorong tumbuhnya industri mebel dan kerajinan nasional tumbuh berkembang sekaligus meningkatnya ekspor. Sementara dipihak lain industri mebel Taiwan akhirnya menjerit karena kekurangan bahan baku.

Masa perkembangan yang dialami industri rotan dalam negeri terganjal tatkala pemerintah kemudian membuka ekspor bahan baku rotan pada 1998. Kesulitan bahan baku rotan yang dianggap sudah mengganggu industri kemudian menelurkan lahirnya SK Nomor 355/MPP/Kep/5/2004 tentang Pengaturan Ekspor Rotan. Rotan alam dalam bentuk asalan dan setengah jadi dikunci terhadap ekspor, yang diizinkan adalah ekspor rotan budi daya itu pun dengan sistem kuota.

Namun kondisi ini belum sepenuhnya mampu mengatasi hambatan pasar dan daya saing global yang merupakan kendala untuk meningkatnya produktifitas dan kontinyuitas pengunaan bahan baku rotan itu sendiri.

Meski usia SK tersebut baru hampir satu tahun berjalan, namun Menteri Perdagangan dengan SK No. 12/2005 telah merombak kebijakan ekspor rotan tersebut. Hal ini atas pertimbangan bahwa melihat kemampuan penyerapan bahan baku industri dalam negeri yang tidak seimbang dengan produksi.

Pengaturan perdagangan memang lebih mudah dibandingkan membuat membangun strategi industri. Gampang saja, apabila pasokan berlebih keran dibuka, jika kekurangan tinggal tutup keran. Itulah yang dilakukan pemerintah dalam komoditas rotan, buka tutup buka, dst ?

1 Response so far »

  1. 1

    Selo said,

    Saya setuju dengan pak Arif Malik. Semoga pemerintah “mengunci” rapat pintu export rotan sehingga pengusaha rotan dapat bersaing di pasar eksport bahan jadi.

    thanks


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: