Hambatan UKM Di Jawa Timur

Disisi eksternal perkembangan UKM di Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh adanya dampak dari kenaikan harga BBM tahun 2005 lalu yang hingga kini masih terasa. Daya beli masyarakat yang belum meningkat menjadi alasan masih kurang bergairahnya pasar sepanjang tahun 2006 – 2007  yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini. Belum lagi serbuan barang impor berharga murah yang membanjiri Jawa Timur juga merupakan ancaman, karena secara berlahan mulai menyisihkan produk-produk UKM.
Beban itu semakin berat, karena tidak lama kemudian dunia usaha termasuk UKM dihadapkan dengan adanya sistem finalti (disinsentif) yang dikeluarkan oleh PT. PLN Ditribusi Jawa Timur bagi perusahaan yang memakai listrik melebihi 50% daya terpasang dan pada saat beban pucak. Hal ini tentunya semakin tidak memberikan daya dorong bagi perkembagan UKM, karena berpengaruh terhadap tingkat produktivitas, dan mengakibatkan tidak kompetitifnya produk yang dihasilkan.

Tingginya suku bunga bank juga merupakan kenyataan pait yang harus dihadapi oleh pelaku UKM. Perbankan yang tidak segera mengikuti isyarat BI untuk menurunkan suku bunga pinjaman walaupun BI rate telah turun menjadi single digit 9.50 persen, dan lebih senang untuk menyalurkan kredit-kredit yang bersifat konsumtif dibading produktif serta menempatkan dananya di SBI dan obligasi pemerintah dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) ketimbang melakukan ekspansi kridit ke sektor riil. Hal ini semakin menjauhkan fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi (financial intermediary) sebagaimana yang diharapkan.

Sementara itu, luapan lumpur LAPINDO sendiri telah melumpuhkan pelaku UKM di sentra Tanggulangin dan terhambatnya jalur distribusi arus barang dan jasa dari dan ke sentra-sentra UKM di kawasan Bangil, Pandaan, Pasuruan dan Malang yang mengakibatkan biaya transportasi dari dan ke sentra-sentra UKM tersebut bertambah, dan menurunnya output/omset serta terhambatnya akses kepada sumberdaya produktif lainnya.

Kemudian, tantangan lain yang harus dihadapi adalah rendahnya daya saing Indonesia di dunia, baik sebagai negara maupun pada level perusahaan. Menurut hasil studi International Finance Cooperation – Word Bank yang dipublikasikan dalam laporan yang berjudul “doing business in 2006” peringkat Indonesia pada urutan ke 115 dari 155 negara yang disurvie dalam kemudahan bisnis. Kondisi ini tentu saja menjadi tidak menguntungkan bagi perkembangan UKM di Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: