Melihat berita dan tayangan TV, muka ku seperti kena tampar
segitukah kemiskinan itu, apa ada orang yang lebih miskin dari aku
punya rumah tidak bisa memperbaiki, punya sepeda tapi sibuk
ngangsur dan apapun milikku terkadang lihat orang yang berjalan
dengan sombong sampai nek di otakku.
Kemarin aku sempat jalan ke arah Pamekasan madura sepanjang
perjalanan aku bingung apa aku yang aneh ataukah masyarakat sudah
demikian melenceng sehingga tanpa malu membuat rumah dengan
megahnya sedangkan rumah sekelilingnya seperti gubuk reyot
beralaskan tanah. Apalagi rumah reyot tersebut merupakan pegawai
dari rumah besar tersebut sehingga otak saya berfikir masih
pantaskan orang yang mempunyai rumah bak istana itu merasa
terhormat atau bahkan minta dihormati, atau bahkan berangkat haji
sampai 5 kali apakah hajinya bisa dikatakan mabrur atau malah mabur
aku gak tahu.
Saya masih ingat sekali saat saya diminta Bapak mertua untuk jual
tanah di sebelah Araya Malang yang sampai sekarang belum laku-laku
dalam pembicaraan kenapa kok beli rumah di perumahan bukan bangun
aja di tanah yang di jual tersebut, dengan santainya Bapak bilang
dulu Aku gak tega bangun rumah yang mewah karena sekeliling rumah
masih banyak gubuk. Dengan alasan inilah Bapak harus beli rumah di
komplek perumahan Araya ya untuk menjaga hati aja dan nyaman walau
aku sampai saat ini masih merasa risi dengan cerita ini karena kok
gak ada perbuatan yang bisa membantu? tapi inilah kenyataan hidup.
Melihat tayangan TV One lebih parah lagi, ketika wawancara ada ibu
yang melihat bahkan ada saudaranya sendiri kena musibah tersebut,
tapi ketika ditanya kalau tahun depan ada acara seperti ini
masihkan mau dia berangkat untuk mengambil sedekah itu, dengan
tenang dan entengnya Dia menjawab mau dan akan berangkat lagi.
Di otakku sempat aku menyalakan diriku, yang sering berkoar2
tentang pemberdayaan masyarakat yang ku jalani dari tahun 1997
sampai sekarang di CTLC jawa Timur sudah sedemikian parahkah
Indonesia khususnya Jawa Timur. Dan saat tanggal 15 September
kemarin saya berkunjung ke CSR Sampoerna dengan bangganya Pak Arif
yang merupakan wakil Pak Yusak menerangkan keberhasilan CSR dan
fasilitas Sampoerna untuk pemberdayaan masyarakat di Pandaan yang
notabene wilayah Pasuruan tempat kejadian meninggalnya 21 orang
tersebut.
Hati saya tersyat perih dan jengkel melihat kenyataan hidup di bumi
yang subur ini masih ada orang yang rela meninggal demi 30000
rupiah. Sekilas saya juga melihat betapa bangganya orang membagi
zakat dengan melibatkan masyarakat begitu banyak kalau saya pandang
apakah ini merupakah pembodohan masyarakat ataukah pemberdayaan
masyarakat.
Saya berfikir pembodohan masyarakat karena pemberian uang secara
langsung banyak menimbulkan pembodohan karena bisa mematikan rasa
malu sebagai penerima derma, tp saya juga ragu untuk menghukum
seperti ini karena saya kadang harus pinjam ke saudara karena
harus mengeluarkan uang untuk anak yang yang belum bayar SPP.
Yang jelas, kenapa ini harus terjadi padahal bumi Indonesia walau
terkadang gersang tp masih sanggup untuk berproduksi walau sekedar
untuk makan, ataukah tanah indonesia sudah digadaikan oleh negara
untuk membiayai pegawainya yang hanya main catur dan game ketika
bertugas dan sering jalan-jalan di mall dengan alasan belanja untuk
anaknya atau keperluan kantor.
Apakah hati kita sudah kena sirosis sehingga harus diganti seperti
dahlan iskan Jawa Pos. Sampai sekarang saya masih susah makan
karena puasa heee…. yang jelas saya gak habis pikir gimana bisa
jiwa ditukar sama 30.000 aja atau kemiskinan begitu menghimpit
sehingga harus merelakan nyawa kita hanya untuk 30000.
Marilah kita asah hati kita dengan puasa dan jangan jadikan puasa
sebagai rutinitas sebagai muslim aja ……
Salam,
Cak Arif